Artikel Terbaru :

6 Wanita yang Tak Boleh Dijadikan Istri

hadist.web.id
ADA begitu banyak wanita di dunia ini. Rasululullah SAW sudah memberikan arahan kepada kita bagaimana harus memilih wanita yang boleh didekati dan dijadikan pendamping. Namun, selain itu, ternyata ada juga wanita dengan kriteria yang tak boleh didekati dan bahkan dijadikan istri. Siapa saja mereka?

Berikut ini adalah kriteria wanita yang harus dijauhi oleh pria, dan jangan jadikan sebagai istrinya:

1. Wanita “Ananah” : wanita yang banyak mengeluh. Apa yang diberi atau dilakukan suami untuk rumah tangganya semua tidak suka dan tidak berpuas hati.

2. Wanita “Mananah” : wanita yang suka meniadakan usaha dan jasa suami, akan tetapi sebaliknya menepuk dada dialah yang banyak berkorban untuk membangun rumah tangga. Dia suka mengungkit-ungkit apa yang dilakukan untuk kebaikan rumah tangga. Biasanya wanita ini bekerja atau berkedudukan tinggi dan bergaji besar.


3. Wanita “Hananah” : Menyatakan kasih sayangnya kepada suaminya yang lain (bekas suaminya dahulu)yang dikawininya sebelum sekarang, atau kepada anak dari suaminya yang lain, dan wanita ini berangan-angan mendapatkan suami yang lebih baik dari suami yang ada. Dalam kata lain wanita sebegini tidak bersyukur dengan jodohnya itu. Wanita sebegini yang mengkufuri nikmat perkahwinan. Dia juga merendahkan kebolehan dan kemampuan suaminya.

4. Wanita “Hadaqah” : melemparkan pandangan dan matanya pada tiap sesuatu, lalu menyatakan keinginannya utk memiliki barang itu dan memaksa suaminya untuk membelinya, selain itu wanita ini suka ikut nafsunya. Wanita seperti ini membuat pusing kepala lelaki. Dia ingin apa saja dia mau. Dia suka membandingkan dirinya dengan diri orang lain. Suka menunjuk-nujuk.

5. Wanita “Basaqah” : ada 2 makna:
a. Pertama : wanita seperti ini suka bersolek dan menghiaskan diri. Dia menghias diri bukan untuk suaminya tetapi untuk ditujukkan kepada dunia. Suka melawan. Uangnya dihabiskan untuk membeli make-up, kasut dan barang kemas. Wanita seperti ini juga sangat suka dipuji-puji. Kalau dia kebetulan menjadi isteri orang ternama dan menjadi pula ketua dalam kumpulan itu, orang lain tidak boleh mengungguli dirinya.

b. Kedua: dia marah ketika makan, dan tidak mau makan kecuali dipisah dengan yang lain dan disendirikan bagiannya.

6. Wanita “Syadaqah” : Wanita yang banyak bicara tentang perkara yang sia-sia dan lagi membisingkan sekitarnya.

[Sumber dari Ihya Ulumuddin – Imam Al Ghazali]

Manfaat Buah Kelapa

hadist.web.id
SENSASI kesegaran yang kita dapat saat meminum es kelapa di cuaca panas hari sangatlah meyegarkan. Selain itu juga kelapa memiliki banyak manfaat dari luar hingga kedalam.

Buah kelapa merupakan buah yang sangat berguna untuk menunjang kehidupan seluruh umat manusia. Ini tidak mengherankan, karena semua bagian pohon kelapa dapat dimanfaatkan untuk kehidupan kita sehari-hari. Daun buah kelapa dapat digunakan untuk membuat ketupat,

Lidi dan seratnya kelapa dapat dibuat sapu, pelepah dan batangnya untuk kayu bakar serta buah dan kandungan air dalam buah kelapa sangat baik untuk menunjang kesehatan tubuh anda. Banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh dari buah kelapa untuk kesehatan tubuh seseorang. Lalu, apa saja manfaat luar biasa buah kelapa bagi kesehatan tubuh anda?.

Pohon kelapa yang sudah kita kenal memiliki bentuk pohon yang menjulang tinggi ke angkasa dengan ketinggian tiga hingga lima meter. Pohon kelapa dapat tumbuh subur di sekitar pesisir pantai serta daerah yang beriklim tropis. Oleh karena itulah, pohon kelapa dapat mudah ditemukan di tanah air tercinta indonesia.

Buah kelapa ternyata memiliki berbagai manfaat tak terduga bagi kesehatan tubuh seseorang. Oleh karena itulah, tips kesehatan tidak ketinggalan untuk mengulas berbagai manfaat buah kelapa tersebut. Berikut ini manfaat luar biasa buah kelapa bagi kesehatan tubuh anda :

  1. Meningkatkan Sistem Imun Pada Tubuh. Dengan mengkonsumsi buah kelapa akan berdampak besar pada meningkatnya sistem imun atau kekebalan tubuh yang anda miliki. Sehingga tubuh tidak mudah terjangkit oleh berbagai jenis penyakit. Ini dikarenakan, buah kelapa bersifat antivirus, anti bakteri serta anti jamur.
  2. Tulang Yang Lebih Kuat. Buah kelapa mengandung sumber kalsium dan magnesium untuk kesehatan tulang anda. Maka dari itulah, untuk mencegah pengeroposan tulang (osteoporosis) yang menyerang kalangan dewasa dan remaja, mulailah mengkonsumsi buah kelapa tersebut.
  3. Jantung Yang Lebih Sehat. Kandungan lemak jenuh dalam minyak kelapa dapat mengurangi potensi penumpukan lemak dibagian arteri pada organ jantung anda.
  4. Terlihat Lebih Awet Muda Sepanjang Waktu. Minyak yang berasal dari buah kelapa bersifat antioksidan yang memiliki fungsi memperlambat proses penuaan dengan cara melindungi tubuh dari berbagai radikal bebas yang sangat berbahaya yang tersebar di udara bebas.
  5. Sistem Pencernaan Tetap Sehat. Kandugan serat yang cukup tinggi dalam buah kelapa, menjadikan buah ini sangat baik untuk menjaga sistem dan organ pencernaan lebih sehat. Sehingga gangguan pencernaan serta gangguan buang air besar tidak akan anda temui lagi.
  6. Rambut Yang Lebih Sehat Dan Bersinar Alami. Rutin membasahi rambut dimalam hari dengnn minyak kelapa dan mencuci atau membilasnya pada keesokan harinya, akan mampu meningkatkan kesehatan rambut di kulit kepala anda.
  7. Gigi Yang Lebih Kuat. Ini dikarenakan, buah kelapa memiliki kandungan kalsim serta magnesium yang merupakan nutrisi yang dibutuhkan oleh gigi agar lebih kuat dan sehat setiap waktu.
Demikianlah tips kesehatan yang membahas 7 manfaat luar biasa buah kelapa bagi tubuh anda.[aldi/intips-kesehatan]

Etika Lelaki Melihat Sesama Lelaki

hadist.web.id
Oleh Ustadz Abdullah Nashih Ulwan

Seorang lelaki tidak diperbolehkan melihat anggota tubuh lelaki lain yang terdapat antara pusar sampai lutut, baik lelaki yang dilihat itu adalah kerabat maupun orang lain, baik muslim maupun kafir. Adapun selain anggota tubuh tersebut, seperti : perut, punggung, dada, dan lain-lain, maka hukumnya boleh selama tidak menimbulkan fitnah (aman)

Dasar pengharamannya adalah hadist riwayat Muslim dari Nabi Saw :

“Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki lainnya dan jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lain.”

Ahmad dan Ashhabus Sunan meriwayatkan :
“Peliharalah auratmu, kecuali terhadap istrimu atau budak yang kamu miliki,”
Hakim meriwayatkan dari Nabi Saw :
“apa yang ada di antara pusar dan lutut adalah aurat.”
Hakim Meriwayatkan pula bahwa :
“ Nabi Saw. Melihat seorang yang paha-nya terbuka. Kemudian beliau mengarahkan dan memberi petunjuk, seraya bersabda, “Tutuplah pahamu, karena paha itu adalah aurat.”

Dan dalam sebuah riwayat dari Tirmidzi dikatakan :

“Paha itu adalah aurat.”


Setelah menyimak nash-nash di atas, akhirnya penulis sampai pada suatu kesimpulan, bahwa seorang laki-laki tidak boleh membuka bagian tubuhnya antara pusar sampai lutut, Baik ketika olah raga, maupun di dalam kamar mandi, meskipun syahwat dirasa aman. Kemudian, Apabila ia diperintah oleh seseorang untuk membuka auratnya, jangan menaatinya, dengan dasar hadist berikut :

“Tidak ada ketaatan terhadap makhluk di dalam maksiat kepada Al-Khaliq (Allah).”

Sedangkan pendapat yang disandarkan kepada mahzab Maliki menyatakan, bahwa aurat itu hanya ada dua: Kemaluan dan dubur. Selain dua aurat itu boleh untuk dibuka. Anggapan ini tidak benar, bahkan termasuk kesalahan dan kesesatan.

Menurut mahzab Maliki, aurat itu terbagi dua: pertama, aurat ketika melakukan shalat. Kedua, aurat dalam kaitannya dengan melihat. Aurat ketika melakukan shalat terbagi kepada dua bagian: pertama aurat mughallazhah (berat), yaitu dua aurat (kemaluan dan dubur). Kedua, aurat mukhaffafah (ringan), yaitu bagian tubuh antara pusar dan lutut. Jika aurat mughalazhah terbuka pada waktu shalat maka mutlak shalat iti harus diulangi. Sedangkan jika aurat mukhaffafah yang tampak dalam shalat, maka diulangi di dalam waktu shalat itu saja. Jika waktu sudah habis, maka tidak perlu lagi diulang.

Sedangkan aurat di dalam memandang, haram hukumnya untuk ditampakkan, baik itu aurat mughalazdah maupun aurat mukhaffafah.

Aurat laki-laki dengan laki-laki lainnya adalah apa yang ada antara pusar dan lutut.

Aurat wanita dengan wanita lainnya, jika keduanya adalah muslimah, adalah bagian tubuh yang ada antara pusar dan lutut.

Aurat wanita muslimah dengan orang kafir adalah seluruh tubuhnya, selain wajah dan dua telapak tangan (menurut satu pendapat), dan seluruh badannya (menurut pendapat lain)

Aurat wanita dengan muhrimnya adalah seluruh tubuhnya selain wajah, kedua tangan, kepala, leher, dan kedua telapak kakinya. Selain itu adalah aurat yang tidak halal untuk dilihat.

Dari nash fikih Maliki tersebut dapat diketahui, imam-imam yang empat telah sepakat, bahwa aurat laki-laki dengan laki-laki adalah antar pusar dan lutut. Atas dasar ini, maka haram melihat anggota tubuh yang terdapat antara keduanya, dan selain anggota tubuh tersebut adalah halal..

Muhammad bin al-Qashim Penakluk India

Ketika Rasulullah berdakwah di Thaif, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallamdiusir oleh kabilah Tsaqif yang mendiami wilayah Thaif tersebut. Lalu datanglah Malaikat Jibril yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah ‘Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung menyapa Rasulullah dan mengucapkan salam lalu berkata, ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah ‘Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun juga”. (HR Imam al-Bukhari dan Imam Muslim).

Kurang lebih satu abad kemudian, salah seorang putra dari bani Tsaqif membuat orang-orang India terkagum-kagum dengan agama yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Putra bani Tsaqif tersebut adalah Muhammad bin al-Qashim ats-Tsaqafi.

Kelahiran Muhammad bin al-Qashim

Muhammad bin al-Qashim dilahirkan di Thaif pada tahun 72 H, kakeknya Muhammad bin al-Hakam adalah pembesar bani Tsaqif. Pada tahun 75 H, Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi diangkat oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan menjadi gubernur Irak, Hajjaj pun mengangkat pamannya al-Qashim, ayah dari Muhammad bin al-Qashim, menjadi wali di wilayah Bashrah. Akhirnya Muhammad yang kala itu baru berumur 3 tahun turut pindah bersama ayahnya dari Thaif (sebuah kota di dekat Mekah) menuju Bashrah di Irak.

Hajjaj yang terkenal dengan pemimpin yang menaruh perhatian sangat besar dalam kekuatan militer dan ekspansi, mempengaruhi jiwa sepupunya Muhammad bin al-Qashim. Muhammad tumbuh dalam lingkungan militer, ia berlatih menunggang kuda sejak kecil, dan turut serta dalam latihan-latihan bela diri dan peperangan, sampai akhirnya ia menjadi seorang panglima perang umat Islam.

Karakter Muhammad bin al-Qashim

Sebagaimana yang terjadi di dunia militer modern, seorang panglima memiliki leadership, keberanian, pemikiran yang matang, dan sifat-sifat lainnya yang membantunya membuat keputusan cepat dan tepat terutama saat berada di medan perang, Muhammad bin al-Qashim juga dianugerahi sifat-sifat demikian. Bisa jadi sifat-sifat ini muncul karena lingkungan masa kecilnya yang menempa dirinya. Terbukti pada usia 17 tahun ia dipilih oleh Hajjaj bin Yusuf memimpin pasukan besar menuju India.

Hajjaj bin Yusuf pernah menasihatinya agar berbuat baik terhadap musuh, memahami dan mengasihi mereka. Namun yang terpenting kata Hajjaj, tunjukkanlah keberanianmu bahwa engkau tidak takut peperangan dan kematian.

Di antara kebiasaan Muhammad al-Qashim adalah ia pasti membangun masjid di setiap daerah-daerah yang ia taklukkan. Menurutnya masjid sebagai simbol eksistensi ajaran Islam dan penyebaran keilmuan dan kebudayaan Islam.


Menaklukkan India

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa Islam tidak menyebarkan ajarannya dengan pedang, akan tetapi ada latar belakang yang menjadi alasan mengapa ekspansi itu dilakukan. Pada tahun 90 H, 12 kapal laut yang memuat barang-barang dagangan, pedagang, dan wanita muslimah ditangkap oleh perompak di wilayah Sindh (Pakistan). Hajjaj bin Yusuf pun menyiapkan pasukan untuk membebaskan umat Islam dari tawanan bajak laut Hindustan ini.

Hajjaj mengutus Abdullah bin Nahban, namun ia gugur dalam misi ini. Kemudian pemberangkatan kedua dipimpin oleh Budail bin Thahfah al-Bajali, Budail pun mengalami nasib serupa dengan Abdullah bin Nahban. Hajjaj pun marah besar setelah melihat pasukan-pasukannya dikalahkan oleh orang-orang Sindh, ia bersumpah untuk menaklukkan negeri ini dan berjanji agar umat Islam bisa memasuki pusat kota negeri tersebut.

Setelah Hajjaj berdiskusi dengan Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, terpilihlah Muhammad bin al-Qashim sebagai panglima perang dalam ekspansi menuju India. Hajjaj memandang, Muhammad bin al-Qashim memiliki keberanian, berjiwa komando, dan memiliki keteguhan hati.

Muhammad bin al-Qashim segera membekali pasukannya dengan alat-alat perang, termasuk alat berat seperti manjanik. Setelah persiapan di rasa cukup, berangkatlah Muhammad bin al-Qashim bersama 20.000 pasukan terbaik menuju India, pemberangkatan pasukan ini terjadi pada tahun 90 H.

Sepanjang perjalanan menuju India, kota demi kota berhasil ditaklukkan oleh Muhammad bin al-Qashim beserta pasukannya. Setelah menempuh perjalanan selama dua tahun, akhirnya Muhammad bin al-Qashim memasuki wilayah Sindh. Ia langsung memerintahkan pasukannya untuk menggali parit besar dan bersiap-siap untuk menghadapi peperangan dengan pasukan Sindh yang dipimpin oleh Raja Dahir Sen.

Peperangan dahsyat pun terjadi antara kedua pasukan besar ini. Namun, orang-orang Sindh tidak bisa menyamakan Muhammad bin al-Qashim dan pasukannya dengan dua pasukan terdahulu. Selain memiliki jenderal perang yang tangguh, perbekalan materi dan jumlah pasukan Islam kali ini memadai untuk meruntuhkan kesombongan para penyembah berhala ini. Pasukan Sindh berhasil ditaklukkan dan Raja Dahir Sen tewas di medan pertempuran. Ibu kota Sindh jatuh ke tangan umat Islam.

Muhammad bin al-Qashim meneruskan ekspansi militernya ke wilayah-wilayah Sindh yang lain demi membersihkan berhala-berhala dari negeri tersebut. Wilayah Sind mulai dari Dibal hingga Punjab berhasil ditaklukkan oleh Muhammad bin al-Qashim dan pasukannya. Penaklukkan ini berakhir pada tahun 96 H. Setelah itu, umat Islam menyibukkan diri mereka dengan mendakwahi para penyembah berhala ini. Rakyat Sindh begitu antusias dengan ajaran Islam, mereka begitu tertarik dengan prinsip persamaan yang tidak mereka dapati pada ajaran Hindu. Demikian juga orang-orang Budha yang sebelumnya direndahkan oleh orang-orang Hindu mendapatkan hak yang sama seperti masyarakat Sindh lainnya. Tersebarlah cahaya Islam di tanah Hindustan dan berdirilah kerajaan Islam di tanah Sindh (Pakistan).

Wafatnya

Kematian Muhammad bin al-Qashim adalah suatu peristiwa yang sangat menyedihkan, apalagi wafatnya ini bukanlah tewas di medan peperangan sebagaimana para pejuang lainnya, akan tetapi korban dari sebuah kedengkian. Ia difitnah dianggap terlibat dalam skandal politik yang terjadi antara Hajjaj bin Yusuf dengan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik.

Ia pun dijebloskan ke penjara Irak dan mengalami berbagai siksaan, sampai akhirnya ia wafat di penjara pada tahun 95 H. Tidak hanya orang Arab yang menangisi kepergiannya, umat Islam di Sindh sangat terpukul mendengar kepergiannya, demikian juga orang-orang Budha dan Hindu turut berduka karena kehilangan sosok pemimpin yang mereka cintai. Orang-orang India (non muslim) menggambar sosok Muhammad bin al-Qashim di dinding-dinding mereka untuk mengenang sang pahlawan.

Muhammad bin al-Qashim wafat di usia yang masih sangat beliau, belum genap menginjak 24 tahun. Dan sampai sekarang Islam di Pakistan tetap tersebar buah dari dakwahnya. Semoga Allah merahmati Muhammad bin al-Qashim.

Note: Dulu Pakistan masih di wilayah India
Disarikan dari tulisan Dr. Imad Ajwah

Mari Berislam secara Total

hadist.web.id
Sebagai seorang Muslim, mari kita bersama-sama bekerja dalam bingkai Islam yang suci menegakkan kalimatullah, mengaplikasikan sendi-sendi ruh islam dalam banyak aspek kehidupan manusia

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (QS: al-Baqoroh: 208)

oleh: Ahmad Amrin Nafis

AYAT ini merupakan kewajiban bagi seorang Muslim harus dan tetap terus berproses untuk memasuki tangga kewajiban totalitas. Tunduk kepada Allah Ta’ala tanpa syarat. Ayat tersebut juga mengingatkan kita tentang syahadat dan maknanya. Syahadat yang bermakna: membenarkan didalam hati, mengucapkannya dengan lisan, dan beramal dengan amal perbuatan.

Syahadat yang minimal kita baca sembilan kali dalam sholat-sholat fardhu kita sehari semalam. Syahadat juga merupakan gerbang pertama menuju penghambaan diri kepada Allah secara keseluruhan,tanpa ada kata nanti,besok,ataupun tidak sempat.

Seseorang yang telah bersyahadat hendaknya harus siap dengan konsekwensi menjadikan Allah sebagai tujuan. Tidak ada sesuatu apapun yang lebih ditakuti,disembah,di ingat lebih banyak,di taati dan semacamnya kecuali hanya Allah semata. Serta, senantiasa menjadikan Muhammad Shallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai panutan yang ma’shum,Qudwah, dan standar kekuatan untuk beriman kepada Allah dan hari akhir.

Makna ayat

Secara fitrahnya, orang yang beriman kepada Allah hendaknya selalu berproses untuk selalu lebih baik dari hari-hari yang telah di laluinya. Menjadi baik secara dzohir ataupun batin. Jika sebelumnya mutu ibadahnya masih banyak kekurangan, maka hari berikutnya harus ditambal kekurangannya. Dan inilah sifat dari seorang Muslim, terus dan terus berproses dalam kebaikan-kebaikan yang Allah perintahkan. Tidak stagnan, ketika telah selesai dengan satu perintah Allah satunya maka hendaknya segera berpindah,tidak lekas berpuas diri,totalitas dan tidak setengah-setengah begitu seterusnya.

Al-Imam Nashiruddin Abi Sa’id Abdullah bin Umar al-Baidhowi di dalam tafsir beliau mengatakan: bahwa masuk kedalam Islam secara keseluruhan adalah menaati Allah ta’ala dzohir dan batin. Kebalikan dari apa yang dilakukan oleh orang-orang munafiq yang dzohirnya beriman tetapi hatinya tidak. Masuk kedalam Islam secara keseluruhan juga berarti tidak setengah-setengah dan tidak mencampur adukkan dengan sesuatu apapun,sedikit ataupun banyak. Beriman kepada Allah,para nabinya dan kitab-kitabnya. Siap menjadikan Islam standar dari cabang-cabang atas segala sesuatu secara hukum keseluruhan. (Anwaarul tanziil wa asroorut ta’wiil.Tafsir al-baidhowi, halaman 114 Daar Kutub al-‘ilmiyyah, 2011)

Seorang Muslim hendaknya memahami dan berkeyakinan bahwa Islam merupakan agama yang sempurna. Islam yang merupakan ruh dan hukum-hukum dari Allah ta’ala,agama para Nabi-Nabi terdahulu, jalan yang lurus dan keselamatan dunia akhirat.

Dr. Fathi Yakan, pernah berpesan kepada kita bahwa seyogyanya orang yang beriman hendaknya menjadikan Islam sebagai standar kekuatan dan perjuangan. Karena islam merupakan agama yang sempurna, agama yang Allah ridhai,dan agama yang fithroh bagi segenap manusia.

Sebagai ajaran yang universal, Islam datang untuk menyelamatkan seluruh manusia,melindungi dan menjaga fithroh manusia karena sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan manusia, bahkan bukan hanya hal itu islam adalah agama yang lurus lagi selamat.

Stop upaya mengkebiri Islam


Tanpa menafikan fenomena yang menggejala sekarang bahwa di negri tercinta kita ini sedang ada upaya menuju pemberangusan islam dalam aspek-aspek kebutuhan manusia.

Bahwa opini yang mulai digalakkan Islam hanyalah agama ibadah. Islam hanya berada di masjid. Islam tidak ikut campur tangan masalah: budaya,sosial,ekonomi,politik,ilmu pengetahuan dan sejenisnya serta statemen-statemen lainnya. Hal ini tentu kita ketahui adalah salah besar.

Para ulama sudah mendeskrepsikan ketika membaca ayat di atas, salah satunya Hasan al-Banna bahwa cakupan kesempurnaan Islam meliputi tiga aspek:

Pertama, kesempurnaan metode (Syumuliyyah al-minhajj)

Metode yang Rasul ajarkan atas perintah Allah tidak ada cacat atau cela sedikitpun daripadanya. Yang ada hanyalah kesempurnaan karena perintah dari sang Maha Sempurna yakni Allah.

Kedua, kesempurnaan di setiap lingkup waktu (Syumuliyyah az-Zamaan)

Sesungguhnya apa yang Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam ajarkan tidak akan pernah lekang oleh waktu meskipun zaman terus berputar dan berganti.

Ketiga, kesempurnaan di semua tempat (Syumuliyyah al-Makaan)

Bahwa kita sebagai seorang yang beriman kita mengetahui bahwa bumi Allah luas adanya. Dan datangnya Islam sebagai penyelamat umat manusia dimanapun ia berada, di bumi bagian barat atau timur, utara bahkan selatan sekalipun.

Islam tidak terlindas ruang dan tempat,sempit atau luas,panjang atapun pendek, di bumi kulit putih ataupun hitam.

Fenomena yang ada juga adalah beberapa indiviu-individu, yayasan-yayasan, pergerakan-pergerakan,ormas-ormas,partai-partai yang ada , melabeli diri mereka dengan islam ini. Tentu yang terjadi adalah keterbatasan mereka sebagai manusia. Hingga timbulnya kekurangan-kekurangan dalam masalah ijtihadi dan adanya aib-aib. Sebagai Muslim, kita dianjurkan ber-husnudzhon terhadap mereka. Menasihati dengan nasihat yang baik jika memang berkompeten untuk memberi nasihat, memberikan haknya sebagai orang beriman, sebagaimana yang Allah dan Rasul jelaskan dan ajarkan kepada kita.

Bukanlah sikap dan sifat seorang Muslim yang mencelanya, memusuhi seperti musuh-musuh Allah karena aib-aibnya.

Jika berbicara mengenai aib,di dunia ini tidak ada yang tidak mempunyai aib hatta para Nabi dan Rasul sekalipun yang ma’shum.

Apatah lagi dengan manusia akhir zaman yang meski mereka berjuang untuk islam yang sempurna inipun, diri mereka tidak akan pernah sempurna dan tidak dapat menghindari aib yang harus ada pada diri manusia.

Penutup

Jadi sebagai seorang Muslim, mari kita bersama-sama bekerja dalam bingkai Islam yang suci menegakkan kalimatullah, mengaplikasikan sendi-sendi ruh islam dalam banyak aspek kehidupan manusia.

Tentu saja ini adalah kerja bersama dalam artian ber-jamaah, apapun itu semoga senantiasa Allah mudahkan dalam menggapai janjinya. Aamin ya Robbal ‘aalamiin.*/Penulis adalah mahasiswa Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam da Arab (LIPIA) Jakarta

Tujuh Dampak Negatif Nikah Mut’ah

SEPERTI kita ketahui, Syiah berpendapat bahwa nikah mut’ah sah menurut syariat (mereka) dan mendapatkan pahala yang agung di sisi Allah. Hakikatnya, agama Islam adalah agama yang sesuai dengan akal manusia yang fitrah, menjunjung tinggi kehormatan dan kesucian. Islam bukanlah agama yang mengedepankan nafsu syahwat dan hasrat-hasrat yang tabu. Islam melarang segala sesuatu yang murni menimbulkan kemudharatan dan sesuatu yang mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya.

Di antara hal-hal yang menimbulkan kemudhratan tersebut adalah nikah mut’ah. Kemudharatan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menyalahi nash-nash syariat karena menghalalkan apa yang Allah haramkan.

2. Riwayat-riwayat dusta yang bermacam-macam dan penisbatannya kepada para imam, padahal di dalamnya mengandung caci maki yang tidak akan diridhai oleh orang yang dalam hatinya terdapat sebiji sawi dari keimanan.

3. Kerusakan yang ditimbulkan dari pembolehan mut’ah dengan wanita yang bersuami, walaupun dia berada di bawah penjagaan seorang laki-laki tanpa diketahui oleh suaminya. Dalam keadaan seperti ini seorang suami tidak akan merasa aman terhadap istrinya, karena bisa jadi si istri nikah mut’ah tanpa sepengetahuan suaminya yang sah ini. Pembolehan ini bisa dirujuk di buku Syiah Al Kafi, Jilid: 5, Hal. 463. Tak dapat dibayangkan, bagaimana pandangan seorang laki-laki dan perasaannya ketika dia mengetahui bahwa istri yang berada di bawah perlindungannya menikah dengan laki-laki lain dengan cara mut’ah (dikontrak pen.). Bagaimana pula keadaan anak-anak dan keluarga lainnya apabila hal ini terjadi?


4. Para bapak juga tidak akan merasa aman terhadap para anak perempuannya yang masih gadis, karena ada kalanya mereka melakukan nikah mut’ah tanpa sepengetahuan bapak-bapak mereka. Sangat mungkin seorang bapak dikagetkan oleh anak gadisnya yang tiba-tiba hamil. Mengapa dia hamil? Bagaimana bisa terjadi? Tidak tahu pula siapa yang menghamili. Atau dia mengetahui anaknya telah menikah dengan seorang laki-laki, tetapi siapakah dia? Dia tidak tahu karena sang suami pergi dan meninggalkannya sebelum berjumpa dengannya karena masa kontrak mut’ah telah berakhir.

5. Kebanyakan tokoh-tokoh Syiah yang membolehkan mut’ah, membolehkan diri mereka untuk nikah mut’ah dengan orang lain, tetapi jika ada seseorang yang meminang anak perempuannya, atau kerabat perempuannya untuk dinikahi dengan cara mut’ah, niscaya dia tidak akan menyetujui dan meridhainya. Karena dia memandang pernikahan seperti ini adalah bentuk perendahan harga diri, jauh dari nilai-nilai kesucian, tidak diterima oleh hati nurani, dan sama saja dengan zina. Ini adalah aib bagi dia, dia menyadari hal itu, sementara dia sendiri mut’ah dengan anak perempuan orang lain. Tidak diragukan lagi dia pasti menolak untuk menikahkan anak perempuannya kepada orang lain dengan cara mut’ah, walau dia membolehkan dirinya sendiri untuk menikahi anak perempuan orang lain dengan cara tersebut.

6. Dalam pernikahan mut’ah tidak ada saksi, pengumuman, keridhaan wali wanita yang dikhitbah, dan tidak berlaku hukum waris di antara suami dan istri, tetapi statusnya hanyalah seorang istri yang dikontrak, sebagaimana pendapat yang dinisbatkan kepada Abu Abdullah. Maka bagaimana mungkin syariat Islam mengajarkan dan mendakwahkan pemeluknya agar melakukan hal ini?

7. Pembolehan mut’ah membuka peluang bagi pemuda dan pemudi yang bobrok akhlak dan kepribadiannya untuk semakin tenggelam dalam kubangan dosa, sehingga hal tersebut akan merusak citra agama dan orang-orang yang taat beragama.

Atas dasar semua itu, maka jelaslah bahaya mut’ah dari sisi kehidupan beragama, kemasyarakatan, dan moral. Oleh karena itu, maka mut’ah diharamkan. Kalaulah dalam mut’ah terdapa kemaslahatan, tentu tidak akan diharamkan, tetapi karena mut’ah mengandung bahaya yang sangat banyak, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkannya.

Demikianlah kehidupan masyarakat yang mayoritas penduduknya adalah Syiah. Bagaimana kebobrokan moral terjadi di lingkungan mereka. Meskipun mereka mengembel-embeli diri mereka sebagai komunitas Islam, masyarakat Islam, atau bahkan negara Islam, maka hakikatnya sangat jauh sekali dari ajaran Islam. Dan tentunya kita menjaga dan saling menasihati kepada kerabat dan teman-teman kita, agar ajaran ini tidak menyebar di bumi pertiwi, sebagai bentuk preventif (pencegahan) terjadinya kerusakan moral bangsa.

[Sumber: Al Musawi, Sayid Husain. 2008. Mengapa Saya keluar dari Syiah. Pustaka Al Kautsar, Jakarta./konsultasisyariah]
 
KEMBALI KEATAS | Home | Redaksi | Pasang Iklan | Kirim Artikel | Daftar ISI
Copyright © 2014 HadistWEB - All Rights Reserved